Informasi yang harus Anda ketahui

Bagian 5: Mimpi Saya dan Pengalaman Dekat Maut

 

Penghargaan: Izin untuk menggunakan video ini tanpa harus menyembunyikan identitas dirinya diberikan oleh pasien.

Ini adalah kisah pahit-manis Le, seorang perempuan 37 tahun dariIndonesia. Dia datang mengunjungi kami pada tanggal 14 Oktober 2011 setelah didiagnosis dengan kanker payudara yang mungkin telah menyebar ke paru-parunya. Dia datang dengan keluhan sakit nyeri di seluruh tubuhnya, terutama di sendi-sendi. Dia tidak bisa menekuk jari-jarinya. Dia tidak bisa tidur nyenyak dan batuk.

Mimpi  Ku

Sebelum saya datang ke sini, saya selalu mimpi-mimpi waktu saya tidur. Tidur saya tidak nyenyak dan terganggu.

Apakah yang Anda mimpi? Le: Kerabat saya dan orang yang dicintai yang telah meninggal mengunjungi saya. Mereka memberitahu saya mereka telah membina sebuah rumah bagi saya disana dan menjemput saya “pulang” bersama mereka.

Apakah itu benar? Le: Ya. Menurut kepercayaan orang orang tua, saya harus meletakkan bunga di persimpangan jalan untuk menenangkan roh-roh itu supaya mereka tidak kembali lagi.  Jadi, saya buat demikian.

Anda bermimpi orang yang dicintai meminta kau “pulang” bersama mereka? Le: Ya. Tapi saya mengatakan kepada mereka saya enggak pergi. Kami ada kenduri makan bersama-sama tapi saya mengatakan kepada mereka saya enggak tinggal disana. Dalam satu mimpi, saya dan suami saya mengunjungi “Taman Eden.” Suami saya membawa koper besar berisi semua pakaian saya.

Oh, nampaknya waktu Anda belum tiba! Setelah Anda datang ke sini,  Anda minum herbal dan menjalani e-Terapi selama empat hari. Adakah kamu masih bermimpi? Le: Saya bisa tidur dengan bai-baik dan nyenyak. Saya tidak bermimpi lagi.

Pengalaman Dekat Maut 

Satu malam pada bulan Maret 2010, saat saya hendak cuci luka payudara, tiba-tiba darah “menyembur” keluar dengan pantasnya dari luka – satu lubang di atas payudara saya dan yang satu lagi di bawah nya. Darah muncerat keluar agak cepat. Saya menggunakan delapan (8) handuk untuk menyerap darah tersebut. Saya coba guna es untuk “menyejukkan” dan menghentikan perdarahan tapi tidak berhasil. Anak saya suruh saya tekan luka saya – jangan buat apa-apa lagi. Saya ikut nasihatnya dan perdarahan berhenti. Telingaku “mendesis” dan penglihatan saya menjadi kabur dan semakin hilang. Saya  mulai melayang pergi – jauh, jauh.

Seperti  Anda melalui terowongan? Le: Ya, ya. Saya  berada di sebuah kendaraan tapi tidak ada pemandu. Saya bersendirian dalam kendaraan itu.  Kenderaan itu bergerak melewati awan dan saya melayang di sekitar antara awan.  Semuanya putih. Saya tidak merasa sakit atau apapun. Hanya  adanya kekosongan mutlak – kosong mutlak tanpa perasaan.

Kapan atau bagaimana Anda kembali? Orang-orang di sekitar saya menyanyi pujian. Kemudian putri saya menarik lengan saya dan berkata, “Mama, tolong jangan tinggalkan saya.”  Saya bangun. Ketika aku sedar kembali, saya rasa pening. Kelihatan saya kabur dan saya lihat banyak bayangan yang bertindih-tindih.

Baca cerita Le yang lengkap:

Bagian 1: Kesejahteraan  Pulih Setelah Dua Hari Minum Herbal dan e-Terapi

Bagian 2: Terapi Alternatif – Pengobatan Suplemen Dua puluh-Satu-Juta-Rupiah Se Bulan

Bagian 3: Mengapa Saya Menolak Kemoterapi / Pengobatan Medis

Bagian 4: Radiasi Membantu Tapi Tidak Menyembuhkan, Tamoxifen Bawa Bencana.

Bagian 5: Mimpi Saya dan Pengalaman Dekat Maut

Bagian 6: Penyembuhan Empat Hari Saya Setelah Perawatan di CA Care

Bagian 7: Perjalanan Saya Yang Kurang Pengetahuan