Informasi yang harus Anda ketahui

Ia Menolak Operasi dan Kemoembolisasi yang Gagal

 

Goh adalah seorang pria berusia 75 tahun dari Indonesia. Ia menjalani pemeriksaan medis pada tahun 2008 dan dokter menemukan SGOT (AST) meninggi, mengindikasikan ada sesuatu yang tidak beres di livernya. Goh melakukan ultrasonografi dan hasilnya adalah terdapat tumor pada lobus kiri liver nya sebesar 6,3 x 8,9 cm.

Goh kemudian ke singapura dan melakukan CT-Scan, dan dipastikan terdapat tumor pada liver nya. Dokter menyarankan Goh melakukan operasi reseksi tumor. Prosedur ini menghabiskan biaya S$20.000. Goh menolak operasi.

Setelah kembali ke Indonesia, Goh diberitahu tentang sebuah rumah sakit di China. Goh pergi ke China. Sekali lagi dokter menyarankan untuk operasi. Dan sekali lagi dokter menyarankan untuk dioperasi. Goh menolak kembali. Bagaimanapun juga, ia setuju untuk melakukan kemoembolisasi. Ini menghabiskan biaya sekitar 10.000 RM. Setelah terapi kemo, Goh kembali ke indonesia. Sekitar satu bulan kemudian, ia kembali ke China untuk terapi kedua. Tetapi, pada saat pemeriksaan, dokter memberitahu Goh kalau kemoembolisasi yang dilakukan sebelumnya tidak efektif. Terapi lebih lanjut dibatalkan. Goh kembali ke Indonesia dan mulai mengkonsumsi suplemen. Ia juga memonitor AST nya secara reguler selain melakukan USG. Nilai AST dan ukuran tumor terus meningkat. USG yang dilakukan pada 12 Maret 2009 (dibawah) mengindikasikan tumor berukuran 9,7 cm x 8,0 cm.

Pada 22 Maret 2009, Goh dan putranya mencari kami untuk bantuan. Kami mengirimkan Goh Full Blood Test dan meresepkan Capsule A, dan herbal liver milik kami: Liver-P, Liver 2, dan LL Tea.

5 Dec. 08 13 Jan. 09 23 March 09
ESR n/a n/a 4
Haemoglobin n/a n/a 14.2
Platelet n/a n/a 223
Total biliburin n/a n/a 42
Alkaline phosphatase n/a 68 68
SGOT /AST 262  H 699  H 451  H
SGPT / ALT 11 23 21
GGT n/a n/a 103  H
Alpha-fetoprotein n/a 2.9 4.1
CA 125 n/a n/a 6.6

 

Komentar:

Jika dilihat biasa saja, Goh tidak menunjukan gejala apapun. Ia terlihat sehat. Tentu, tapi ia memiliki tumor pada livernya. Dokter berkata itu berbahaya dan harus disingkirkan. Tetapi, coba dipikirkan. Ada pilihan pada kasus ini. Goh dapat belajar bagaimana untuk hidup dengan tumor, dapat makan, tidur, dan bergerak bebas tanpa masalah. Atau ia melakukan operasi. Tetapi apa efek dari operasi yang dilakukan padanya setelah itu adalah yang menjadi pertanyaan. Kita perlu untuk melihat dan mempelajari kasus di bawah ini:

1.   Doris, berusia 46 tahun dan melakukan operasi untuk memindahkan tumor di livernya di singapura. Ia melakukan kemoembolisasi. Dalam waktu 8 bulan ia meninggal.

2.   Sam, berusia 51 tahun, terdapat tumor berukuran 3,5 x 3,5 cm di livernya dan dioperasi di Penang. Ia melakukan kemoembolisasi dua kali. Terapi ini tidak berhasil. Hampir 5 bulan kemudian, nilai alpha-fetoprotein –nya mencapai 239.595,00. Dokter bedah tidak mau menemuinya lagi.

3.   Suria, berusia 37 tahun dan melakukan operasi di Singapura untuk mengeluarkan tumor pada livernya. Dokternya di Indonesia memberitahu ia untuk melakukan operasi dan ia mungkin dapat hidup 10 tahun lebih lama. Dokter bedah di Singapura berkata ia memiliki 98% kemungkinan. Tiga bulan kemudian, Suria mengalami kekambuhan dan meninggal ketika akan melakukan kemoterapi ke onkologis.

4.   Pang, berusia 61 tahun. Ia memiliki tumor berukuran 5,2 x 5,3 x 6,5 cm pada lobus kanan livernya dan kanker juga bermetastase ke paru-paru nya.

Berdasarkan kisah di atas, Goh adalah yang tertua diantara mereka semua. Ia berusia 75 tahun dan tumor di livernya berukuran 9,7 cm x 8,0 cm, yang terbesar diantara yang lain. Apa yang anda pikirkan, apa yang akan terjadi pada Goh jika ia melakukan saran dari dokter bedah di Singapura danChina untuk melakukan operasi?

Dalam kata pembukaan buku: Cared cured naturally yang ditulis Betty Khoo, Chris menulis ini:Setelah satu dekade menolong pasien kanker, saya sampai pada kesimpulan kecil ini: Semakin terpelajar anda atau semakin banyak uang yang anda miliki, semakin tinggi kemungkinan anda akan mati karena kanker! Kematian ini mungkin akibat dari terapi daripada penyakit itu sendiri. Saya sering melihat bahwa dengan tidak melakukan apapun mungkin akan lebih baik daripada melakukan sesuatu!

Ada juga yang berkata: Seorang manusia yang terpelajar tidak harus bijaksana, seorang bijaksana tidak harus terpelajar.